Conversation · Life · Writings

Tuhanku Yang Maha Baik

Tuhanku Yang Maha Baik,

Inilah hasil dari kontemplasiku dalam diam yang tak berhenti mengingatMu.

Inilah hasil dari kemarahan sekaligus ketakutan dalam prasangka terhadapMu.

Inilah aku, atas nama diri yang tidak kukenali lagi. Kutebas segala nama yang mewakili jiwa.

Aku tahu Kau akan membaca surat ini, di manapun aku akan meletakkannya nanti.

Tuhanku Yang Maha Baik,

Aku takut,

Atas semua yang terjadi di muka bumi, yang kemudian menjadi barisan keputusanku esok hari.

Aku takut,

Atas apa yang mengusai pikiranku, yang kemudian menjadi tolak ukur perlakuan manusia padaku.

Aku takut,

Atas kemunduran yang seharusnya adalah salahku yang kupersalahkan padaMu.

Aku takut,

Atas hidupku sendiri.

Tuhanku Yang Maha Baik,

Di tengah hangat yang mereka katakan terpancar dariku, aku merasakan dingin yang bersemayam dalam jantungku. Ia mengakar di peparuku dan tumbuh bersama serat nadiku. Ia membekukan darahku. Otakku tak lagi memerintahkan senyum, motorikku hanya ingin memompa air mata. Perjuanganku hanya sebuah hati yang terus menerus berteriak lelah.

Tuhanku Yang Maha Baik,

Apakah ini namanya?

Kenapa tak kurasa lagi sebuah pelukan yang nyata?

Yang sering Kau tinggalkan sebelum aku tidur dan Kau bentangkan kala aku bangun.

Apakah ini namanya?

Kenapa tak kurasa lagi sebuah syukur yang indah?

Yang sering kututurkan sebelum dahi menyentuh tanah dan cerita empat mata antara kita.

Adakah kita sama – sama berubah?

Ini surat untukMu, sedang tak bisa kusampaikan pada sujudku tapi rindu sudah terlanjur menderu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *